"Apa gunanya kamu bersikeras seperti ini, Zhao?" bentak pria tua tersebut, suaranya menggema penuh kemarahan di lorong yang sempit.

"Sampai kapanpun, Sekte Api Langit tidak akan pernah tunduk pada sekte sesat seperti kalian. Pihak kerajaan dan sekte-sekte lain pasti tidak akan tinggal diam atas perbuatan kalian ini," balas Ketua Sekte Api Langit dengan nada penuh amarah dan keberanian yang tertahan.

Ling Mei, yang mendengar suara Ketua Sektenya, merasa jantungnya berdebar kencang. Suara ketua terdengar lemah dan terluka parah. Ia tahu ini bukan waktu untuk bertindak gegabah. Seseorang yang bisa melukai Ketua Sekte bukanlah orang yang bisa dianggap remeh.

"Aku harus pergi dari sini dan mencari bala bantuan," pikir Ling Mei, memutuskan langkah berikutnya dengan cepat.

Namun, sebelum dia sempat bergerak pergi, kata-kata berikutnya menghentikannya, membuat jantungnya terasa seakan terhenti.

"Kamu boleh keras kepala, tapi semua orang di Sekte Api Langit ini, akan menyusul roh Ling Juan ke alam baka," bentak pria tua tersebut dengan nada ancaman yang dingin.

Mendengar kalimat tersebut, secara refleks Ling Mei berbisik, "Ayah..."

"Siapa di sana?" teriak tetua pengkhianat, suaranya penuh amarah karena tidak menduga ada yang mengintip.

Pria tua yang duduk di atas batu besar mengangkat tangan kanannya, dan seketika menarik tubuh Ling Mei ke arahnya dengan kekuatan yang tak tertahankan.

Ling Mei, menyadari kesalahannya, berusaha melarikan diri. Dia tahu bahwa dia tidak sanggup melawan dan harus membalaskan kematian ayahnya. Namun, sekeras apapun ia berusaha, kekuatan tarikan yang luar biasa kuat membuatnya tak berdaya. Dalam sekejap, tubuhnya melayang, dan lehernya berada dalam genggaman tangan pria tua tersebut.

"Hkkk... lepaskan! Lepaskan aku, bajingan! Aku akan membunuhmu..." teriak Ling Mei, berusaha sekuat tenaga melepaskan genggaman di lehernya.

"Ling Mei? Lepaskan dia!" teriak Ketua Sekte, terkejut ketika menyadari siapa yang mengintip mereka.

Ketua Sekte berusaha bangkit untuk menyelamatkan Ling Mei, namun luka parah dan racun yang menyerang tubuhnya membuatnya tak mampu berbuat banyak.

"Lepaskan dia! Kamu sudah menahanku di sini. Tidak perlu menyakiti yang lainnya!" teriak Ketua Sekte dengan putus asa.

"Tuan, wanita ini adalah gadis jenius yang aku ceritakan. Hanya dalam tiga tahun, dari manusia biasa, dia mampu mencapai tingkat Master Foundation Emas Hitam dan mau melangkah ke Grandmaster," kata tetua yang berkhianat, menjelaskan dengan penuh semangat.

Pria tua yang hendak membunuh Ling Mei memandangnya dengan tajam. "Menarik... dia memiliki tubuh khusus. Tetapi aku tidak memerlukannya. Setelah senjata iblis kudapatkan, tidak akan ada satupun yang dapat mengalahkanku."

Pria tua tersebut lalu memasukkan sebuah pil ke mulut Ling Mei dan memaksanya menelan, kemudian melemparkannya dengan keras ke samping tetua pengkhianat.

"Bawa dia kembali. Dia sudah meminum racun Penyedot Jiwa. Dalam beberapa hari dia akan mati dalam penderitaan. Tunjukkan kepada para tetua sialan itu bahwa ini hukuman bagi siapa yang berani melawan. Aku tidak mau ada yang merusak rencanaku di sini," perintahnya kepada tetua pengkhianat.

"Baik, Tuan." Tetua tersebut segera membawa tubuh Ling Mei yang pingsan dan bergerak cepat kembali ke kamarnya, meletakkannya di sana dengan hati-hati, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.

***

Sementara itu, Lynx, yang tidak mengetahui bahwa sesuatu yang buruk telah menimpa Ling Mei, sedang berusaha mendapatkan informasi dari Lala mengenai bahaya yang mengintai di Sekte Api Langit.

"Aku tidak akan menutupi apapun darimu, Xiao Ling. Tapi sebelumnya, aku harus memastikan terlebih dahulu, apakah kamu tahu tentang senjata iblis?" tanya Lala, menatap Lynx dengan serius.

Lynx, yang memiliki ingatan dari Xiao Tang, segera teringat akan peristiwa saat para kultivator bersatu untuk melawan Ketua Sekte Iblis yang memiliki pedang iblis. Dalam hitungan detik, banyak kultivator immortal terluka parah dan terpaksa melarikan diri, sementara sebagian lainnya terbunuh.

Dengan strategi yang cermat, mereka berhasil menjebak Ketua Sekte tersebut saat ia terpisah dari senjatanya, akhirnya melumpuhkan dan menyegel senjata tersebut. Namun, Leluhur Xiao Tang sengaja meminta agar mereka yang membawa pecahan senjata iblis menyimpan rahasia tempat penyimpanan masing-masing demi keamanan. Akibatnya, Xiao Tang sendiri tidak mengetahui keberadaan pecahan-pecahan senjata iblis tersebut.

"Iya, aku mengetahui sejarahnya," kata Lynx sambil menganggukkan kepalanya, menunjukkan pemahamannya.

"Salah satu fragmen senjata iblis ini ada di dimensi kecil di Kerajaan Jinghai. Namun, untuk masuk ke dimensi kecil itu, diperlukan kunci dimensi," jelas Lala lebih lanjut.

"Dan kunci dimensi itu ada di Sekte Api Langit? Begitu?" Lynx menebak, mencoba menyusun potongan informasi.

"Pintar. Betul sekali. Rahasia ini akhirnya bocor keluar, sehingga banyak pihak yang berusaha mendapatkan kunci ini, termasuk dari Kerajaan Jinghai. Karena itulah banyak pihak berusaha menyusup ke tempat itu," kata Lala, mengungkapkan situasi yang lebih rumit dan berbahaya daripada yang dibayangkan Lynx.

Mendengar hal ini, Lynx menyadari bahwa situasi di Sekte Api Langit jauh lebih berbahaya daripada yang ia duga sebelumnya. Ada banyak pihak yang terlibat, masing-masing dengan kepentingan tersendiri, dan semua menginginkan kekuatan yang terpendam dalam fragmen senjata iblis tersebut.

“Karena Arkha dan Kael tidak jadi menemuiku di sini, sekarang kamu harus menceritakan apa yang terjadi dengan kalian setelah kita terpisah,” kata Lynx, matanya memandang penuh harap ke arah Lala.

Lala mencari tempat duduk dan melirik Lynx yang masih berdiri. "Apakah kamu hanya akan berdiri saja? Duduklah," katanya sambil menepuk tempat di sampingnya.

Setelah Lynx duduk, Lala mulai bercerita. “Setelah kita keluar dari pintu portal dimensi, ledakan itu memisahkan kita. Tapi, kita semua masih berada di Kerajaan Qingxuan. Pergeseran tempatnya tidak terlalu jauh. Aku sendiri sempat sendirian di Hutan Baihua dan diserang binatang iblis. Untungnya, seorang kultivator wanita menemukanku dan menyelamatkanku. Dia memberiku nama Qian Lanyi, tapi orang-orang masih memanggilku Lala, dari kata Lanyi. Wanita itu mengajari aku berkultivasi karena melihat bakatku yang dianggap bagus dan sudah memiliki dasarnya. Kamu lihat sendiri sekarang, aku sudah mencapai Forging Qi tingkat lima. Setahun kemudian, Kael menemukan kami.”

Lala berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Dengan pengalaman dia sebagai prajurit bayaran, Kael bekerja sama dengan Tuan Zhen Huan untuk membangun organisasi mata-mata. Meski pemiliknya adalah Tuan Zhen, tapi Kael yang memberikan banyak sistem pelatihan kepada anggotanya. Sebagai imbal balik, Tuan Zhen akan membantu menemukan kita semua. Sayangnya, Kael terlambat. Penduduk Surya menghilang dan belum ada jejaknya.”

Lynx hanya mengangguk sedih. "Aku sudah mendengarnya dari tuan Zhen, mengenai pihak Kerajaan mengamankan penduduk suku Surya di dunia kecil namun seseorang sudah mencuri artefak tersebut."

"Baguslah, Jadi kamu sudah mengetahuinya. Aku tidak perlu menceritakannya lagi." Kata Lala dengan wajah masih terlihat sedih.

Namun Jelita yang baru mendengar merasa kaget, panik, dan menangis. “Lynx, bagaimana bisa kamu merahasiakan hal sepenting itu dariku?” serunya dengan marah.

Lynx berusaha menjelaskan dengan lembut, “Aku belum menceritakannya karena ingin mengetahui detail ceritanya terlebih dahulu dan tidak ingin membuatmu bersedih tanpa alasan yang jelas.”

"Tapi bukan seperti itu caranya. Kamu tahu, aku sangat mengkhawatirkan mereka dan kamu justru merahasiakannya." Kata Jelita sambil menangis. Dia merasa sangat kecewa karena Lynx tidak langsung menceritakannya.

"Maafkan aku ya. Di kota Huoling, aku sudah mengatakan ada seseorang yang mengetahui tentang keberadaan mereka. Awalnya aku berharap mendapatkan petunjuk dimana mereka ditempat ini sehingga kamu tidak terlalu bersedih, tapi justru aku melakukan sebaliknya." Kata Lynx dengan penuh penyesalan.

Lala juga ikut menghibur dan memeluknya."Jelita, kamu tahu sifat Lynx, dia tidak akan pernah berniat buruk sedikitpun. Percayalah, kita pasti akan menemukan mereka."

Jelita menganggukkan kepalanya sambil tetap menangis di pelukan Lala. Dia ingin melepaskan beban dan rasa sesak yang telah ditahan-tahannya selama beberapa hari ini.

Setelah suasana sedikit reda, Lynx bertanya, “Lala, siapa saja yang sudah kalian temukan?”

Lala menghela napas sebelum menjawab, “Hanya kamu, Jelita, Leena, dan Rira yang belum berhasil ditemukan. Yang lainnya sedang menjalankan misi.”
